Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Tokoh : Chairil Anwar Pemuisi Unggul

sumber gambar : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7c/Chairil_Anwar.jpg/220px-Chairil_Anwar.jpg

Salah seorang pemuisi yang kawan kagumi. Puisinya bukan orangnya. Legasi puisi yang ditinggalkannya sering memberi pengaruh kepada pemuisi-pemuisi selepasnya.

Chairil Anwar (26 Julai 1922 - 28 April 1949), juga digelar 'Binatang Jalang' sempena puisi 'Aku' merupakan pemuisi Indonesia dan ahli kepada 'Angkatan 45'. Dia dianggarkan menulis 96 karya termasuk 70 puisi.

Dilahirkan dan dibesarkan di Medan, Sumatera Utara sebelum berpindah ke Batavia pada 1940 bersama ibunya, di mana dia mula menjebakkan diri ke dalam kesusasteraan. Selepas menerbitkan puisi pertama pada 1942, dia terus menulis. Bagaimanapun, puisinya pada masa itu telah dihalang oleh Jepun yang menakluki Indonesia. Hidup dengan jiwa memberontak, dia meluaskan penulisan, terutamanya mengenai kematian. Dia meninggal dunia di Jakarta oleh penyakit yang tidak diketahui. (Kemungkinan aids atau siflis, mungkin... dengan cara hidup dia yang tidak sihat)

Karyanya berkisar tentang pelbagai tema, antaranya kematian, individualisme, existentialisme dan selalunya pelbagai interpretasi. Mengambil pengaruh dari pemuisi barat, dia selalunya menggunakan bahasa seharian dan sintaks baru di dalam puisinya. Di mana ianya membantu perkembangan dalam Bahasa Indonesia. Puisinya selalu dibentuk secara tidak tetap, tetapi mempunyai corak tertentu - Wikipedia

Antara puisi-puisinya yang terkenal ialah Aku, Cintaku Jauh di Pulau, Hampa, Rumahku, Doa, Persetujuan dengan Bung Karno, Sajak Putih dan Tak Sepadan.

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Sumber sajak : Puisi Chairil Anwar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lupa dan Ingat

Bayang malam yang kelam
aku masih di sini
Matahari layu singgah di pipi
aku tetap begitu dan begini
duduk berlunjur, menghisap rokok, menonton tv
anehnya..
aroma kelmarin masih dapat kuhidu
bayang semalam telah kulupai
menjenguk tirai kamar tak berisi
melihat luar yang sendat
teringat diri yang terlupa
rakan yang menghilang dan muncul
silih berganti kasih dan benci
roda hidup masih begitu
layu...
kusedut dan kuhembus mimpi dan angan
kupandang depan yang jelek
kujeling belakang yang tegar
kuingin lupai malam yang membencikan
kelmarin yang memualkan
ingatkan aku semalam yang hilang
mana tahu
terlupa apa yang ingin diingati
teringat apa yang ingin dilupai
tetap masih begitu.

Nota buku lali : Sajak yang kawan sendiri dah lupa bila tahun kawan buat.. Apa yang kawan ingat, masa ni kawan duduk di Buntut Pulau...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS